Penyakit itu memang taqdir. Bapak itu termasuk orang yang menjaga banget kebersihan, tapi kok bisa ya dapet penyakit ndeso. Beberapa bulan ini, kulit kaki bapak terkena infeksi jamur. Infeksi jamur menyebabkan rasa gatal dan rasa sakit bahkan jaringan kulitnya jadi terbuka. Dari dokter yang self dispensing, beliau mendapatkan salep anti jamur. Setelah pemakaian sekitar dua minggu, masih ada sedikit infeksi tersisa. Bapak memintaku membelikan salep yang sama. Aku yakin, salep yang sama tidak ada di apotek karena dapetnya juga dari dokter. Salep itu diproduksi oleh produsen yang tidak terlalu terkenal dan merek yang mungkin jarang ada di apotek. Oleh karena itu, aku mengingat-ingat zat aktifnya saja. Salep itu berisi Clotrimazole. Aku tidak sempat melihat ISO (Informasi Specialite Obat) atau MIMS untuk mengecek merek sediaan sejenis.
Petang itu, aku mampir ke apotek.
Aku : Mbak beli salep isinya Clotrimazole!
Penjaga : Apa?
Aku : Klo – tri – ma –zol.
Penjaga : Hmm.. masih mikir.
Aku : Salep antijamur mbak.
Untung aku berdiri di depan etalase obat luar. Dan mataku tiba-tiba tertuju ke sebuah krim yang isinya juga Clotrimazole.
Fungiderm produksi PT Konimex, hehehe… Dan ternyata bukan salep tapi krim.
Aku : Itu aja mbak, isinya sama.
Sambil melayaniku, mbak penjaga toko itu kemudian melayani pembeli lain.
Pembeli : Mau beli sirup antibiotik.
Penjaga : Ampisilin?
Aku : (di pikiran) Ngeeeek..
Pembeli : Iya.
Penjaga : Mau oplos di sini atau di rumah? (maksudnya direkonstitusi)
Pembeli : Di sini.
Aku : (suudzon di pikiran) ko bisa tebakannya betul. Curiga buat penyakit singa itu kali ya. Tapi bapaknya kliatan biasa-biasa, lagian sekarang kan minggu malem, bukan malem minggu. Heran. Lagian kan tampangnya biasa-biasa aja.
Penjaga : Buat umur berapa Pak?
Pembeli : bla bla bla (aku gak denger, ada telepon dari rumah).
Penjaga : Ci (ke bosnya), ada Amoxsan Forte gak?
Selanjutnya aku pergi, dan tidak tahu sisa percakapannya.
Aduh, ketar-ketir nih hati memikirkan kunjungan singkat ke apotek tadi. Untuk lain kali, memang sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu merek dagang terkenal dari suatu obat. Informasi singkat tentang Clotrimazole sebagai berikut:
Clotrimazole adalah antifungi spectrum luas golongan imidazole, digunakan untuk mengobati infeksi kulit yang disebabkan oleh berbagai spesies dermatofita patogen, jamur dan Malasseia furfur.
Mekanisme kerja Clotrimazole adalah dengan menghambat biosintesis ergostrerol dan sterol lain (Ergosterol adalah sebuah sterol selular utama jamur, penting menjaga integritas dan fungsi membran jamur). Penghambatan biosintesis ergosterol menyebabkan rusaknya membran sel jamur, merubah permeabilitasnya sehingga terjadi kehilangan elemen intraseluler penting. Selain itu terjadi penghambatan aktivitas enzim oksidatif dan peroksidatif yang menyebabkan tingginya kadar hidrogen peroksida intraselular yang berkontribusi pada kematian sel.
Obat ini diindikasikan untuk pengobatan topical infeksi kulit yang disebabkan Candidiasis karena Candida albicans, tinea versicolor karena Malassezia furfur . tinea pedis, tinea cruris, and tinea corporis yang disebabkan Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes, Epidermophyton floccosum , and Microsporum canis
Saran pemakaian untuk pasien:
- Gunakan obat secara tuntas sampai penyakit anda sembuh. Umumnya, setelah pemakaian satu minggu kulit sudah tidak terasa gatal. Kembali ke dokter apabila tidak ada perkembangan setelah 4 minggu pemakaian
- Informasikan ke petugas kesehatan apabila ada kemungkinan alergi obat tersebut. Contoh timbul kemerahan, gatal, rasa terbakar dan pembengkakan.
- Gunakan sesuai dosis. Apabila ada penggunaan yang terlewat, segera oleskan secepat mungkin kecuali sudah mendekati jadwal penggunaan berikutnya.
- Mencegah sumber infeksi baru. Contoh: kaki bapak disarankan untuk selalu kering dan bersih.
Penjaga apotek tadi, aku pastikan bukan apoteker dan ”mungkin” bukan asisten apoteker. Dia sama sekali tidak familiar dengan kata Clotrimazole. Setelah aku baca MIMS, ada satu merek terkenal lagi yang isinya Clotrimazole yaitu Canesten dari Bayer (Tahu kan??). Penjaga apotek tadi benar-benar tidak tahu isi sebuah obat. Kalau aku sih wajar kalau tidak tahu merek
. Produk Sanbe saja ada ratusan lebih (ngeles).
Dan, kejadian kedua ketika bapak tadi minta sirup antibiotik. Omaigat.. speechless. Kenapa langsung ampisilin dan tiba-tiba amoxsan forte?? Untuk siapa? Memang dia sakit apa? Obatnya meneruskan atau baru? Sebelumnya menggunakan apa? Sudah ke dokter atau belum? Kok bisa penjaga apotek tadi langsung memutuskan obat? Sedih? Tidak, itu mah biasa.
Pasien memang berhak melakukan self-medication/pengobatan mandiri. Tapi, di apotek tidak ada apoteker yang secara kompetensi bisa membantu memilihkan obat yang tepat. Akibatnya, pasien bisa terkena efek samping obat yang tidak perlu, penyakit tidak sembuh, bakteri resisten, uang hilang untuk obat yang tidak perlu.
Salut dan bravo untuk sahabatku, fauzan dan aldi, apoteker yang berpraktek di apotek. tentu hapal merek, zat aktif, indikasi, efek samping, dan berbagai informasi yang dibutuhkan pasien.
Dukung fauzan untuk anti apoteker tekab!!!
Anda sebagai pasien, Anda berhak mendapatkan pelayanan yang seharusnya. Obat itu bukan makanan. Obat dan racun itu hampir sama, bedanya hanya di dosis. Jadi, perhatikan obat yang Anda konsumsi atau gunakan.

Komentar Terakhir